Diduga Feberman Bate'e Sulap PAUD SPS Maranatha Jadi Milik Pribadi, Warga Jemaat Gereja Amin Keberatan
Gunungsitoli: liputandetail.com - Beberapa warga Gereja Amin Jemaat Maranatha Desa Siwalubanua I, Kecamatan Gunungsitoli Idanoi, Kota Gunungsitoli, merasa keberatan atas ketidak pastiannya status kepemilikan dan keberadaan PAUD SPS Maranatha yang berada di Dusun II Bakaru Siwalubanua I. Beberapa Warga Jemaat Meminta Sinode Gerja Amin, Dinas Pendidikan Kota Gunungsitoli Dan Pemerintahan Desa Setempat agar turun tangan untuk memperjelas status kepemilikan PAUD tersebut.
Keberatan bermunculan setelah PAUD tersebut diambil alih salah seorang warga Gereja Amin Jemaat Maranatha, Feberman Bate'e dan mengklaim PAUD tersebut menjadi milik pribadinya. Padahal menurut penjelasan warga Paud itu berdiri atas musyawarah dan usulan warga Jemaat.
Salah seorang warga Gereja Amin Jemaat Maranatha, Samaria Ndraha, menjelaskan, beberapa tahun yang lalu pihak mereka menghibahkan tanah untuk lokasi pertapakan Gereja.
Setelah beberapa tahun telah berdiri Gereja Amin Jemaat Maranatha, pada tahun 2019 warga Jemaat Maranatha mengusulkan supaya ada pendidikan anak usia dini (PAUD), sehingga keinginan mereka pun tercapai hingga berdirinya PAUD dengan nama SPS TERPADU PAUD MARANATHA dengan pengurus PAUD dipilih oleh warga jemaat.
"Mulai beroperasi PAUD tersebut pada bulan Januari tahun 2020, dan pada saat itu yang menjadi Ketua Pendidikan sekaligus Kepala Sekolah yaitu ibu Feberia Harefa, istri dari Feberman Bate'e, dan sekretaris Aroli Gea, bendahara ibu Ina Celsi Harefa, "ucapnya kepada beberapa wartawan, Senin (9/01/2026).
Ditambahkannya, kurang lebih satu tahun berjalan, ibu Kepala sekolah Feberia Harefa mengundurkan diri dari jabatan kepala sekolah karena ada pekerjaan lain. Namun jelang beberapa minggu usai mengundurkan diri, Feberman Bate'e, suami dari Ibu kepala sekolah yang lama tanpa melaui musyawarah jemaat mengambil alih langsung jabatan kepala sekolah PAUD tersebut.
"Tiba-tiba pagi itu disaat apel Feberman Bate'e mengumumkan dihadapan anak-anak bahwa dirinya sebagai kepala sekolah, sehingga pada saat itu kami sebagai warga menjadi kaget karena tanpa melalui musyawarah jemaat, dan mengklaim bahwa PAUD itu sebagai milik pribadinya "jelasnya.
Dikatakan Samaria Ndraha, setelah Feberman Bate'e mengambil alih menjadi kepala sekolah, ianya mengubah kepengurusan PAUD yaitu, istrinya tetap sebagai ketua pendidikan dan bapaknya sebagai sekretaris sekaligus operator.
"Anehnya pada saat rapat majelis jemaat, Feberman Bate'e memuat laporan tahunan tentang pedidikan PAUD yang sudah ia klaim menjadi milik pribadinya. Sehigga pada saat itu kami warga menolak laporannya itu dan meminta ketika PAUD sudah menjadi milik pribadinya, semua laporan tentang PAUD jangan dibawa dalam forum Gereja. Begitu juga lokasi dan nama harus diubah, "terangnnya.
Samaria Ndraha menyampaikan, jika pun PAUD tersebut ia klaim menjadi milik pribadinya tidak masalah tetapi jangan lagi dibawa nama Gereja Maranatha dan segala kepengurusan administrasi jangan dibawa-bawa nama Gereja Maranatha.
"Anehya pun sampai sekarang pihaknya masih menggunakan nama PAUD sebelumnya Yaitu SPS Maranatha, dan pada pengurusan adminstrasi seperti pada dana BOS masih menggunakan nama PAUD sebelumnya. Dan apa lagi pihak pemerintah Desa tidak mengetahui keberadaan PAUD itu setelah dia memindahkan lokasi dari Jemaat Maranatha, "imbuhnya.
Ditempat yang sama, Fernius Gea alias Ama Jhon menyampaikan, sebagai masyarakat dan warga Gereja Maranatha sangat keberatan atas PAUD tersebut karena telah diklaim menjadi milik pribadi, sementara terbentuknya PAUD itu atas usulan warga jemaat sehingga PAUD diambil dari nama Gereja Marantaha yaitu "SPS Terpadu Paud Maranatha".
"Jika sudah diklaim menjadi milik pribadinya maka jangan menggunakan nama PAUD yang lama yang terbentuk dari nama Gereja Marantha. Kami juga jelaskan bahwa sejak dia mengklaim PAUD itu menjadi milik pribadinya belum diketahui oleh pemerintahan Desa, dan apalagi dia itu bukan warga Desa setempat, "ujarnya.
Pihaknya berharap agar Dinas Pendidika Kota Gunungsitoli memberi kepastian tentang keberadaan PAUD tersebut yang sebelumnya dibentuk melalui Gereja yang sekarang telah diklaim menjadi milik pribadi.
"Baik Dinas Pendidikan Kota Gunugsitoli maupun pemerintahan Desa Siwalubanua I, dan Sinode Gereja Amin, supaya segera menanggapi permasalahan ini. Jika tidak ada respon dalam waktu cepat maka pihak kami warga akan turun tangan menutup Paud tersebut untuk sementara waktu sampai ada kepastian atau kejelasan status kepemilikan "tegasnya mengakhiri.
Ketika Media konfirmasi kepada Kepala sekolah Paud Maranatha An. Feberman Bate'e Lewat WhatsApp, sampai berita ini di tayangkan belum ada tanggapan.
Biro: Iyan Lawolo










Tulis Komentar